Logo Suara Bekasi, Suara Bekasi, Suara Bekasi Online

SUARA BEKASI, Cikarang Pusat: Perluasan sektor industri pada salah satu kecamatan di Kabupaten Bekasi telah membuat wajah asli wilayah tersebut kian memudar, sehingga perlahan kehilangan identitas aslinya.

Kecamatan Cikarang Pusat memang bukan satu-satunya kecamatan yang bakal maju dan mundur secara bersamaan, masih banyak kecamatan lain di Kabupaten Bekasi yang bakal bernasib sama, sebut saja Kecamatan Cikarang Timur dan Cikarang Selatan.

Menurut tokoh masyarakat setempat, Dedi (53), Kecamatan Cikarang Pusat berpenduduk sekira 58 ribu jiwa dan memiliki enam desa, yaitu Hegarmukti, Cicau, Jayamukti, Pasirranji, Pasirtanjung serta Sukamahi. Kawasan Cikarang Pusat yang berada pada dataran tinggi, yang dimiliki prusahaaan besar.

“Tidak rata, sebagian besar dimiliki oleh Sinarmas Land yang memiliki Kota Deltamas dan Kawasan Industri Delta Silicon,” kata Dedi kepada wartawan, di Cikarang, Ahad (01/3/2015).

Menurutnya, ratusan petani di Cikarang Pusat pun semakin kehilangan tanah garapannya. Beberapa dari mereka hanya memiliki secuil tanah yang masih mereka tanami padi dan dirawat dengan penuh cinta.

“Sebagian besar lahan mereka┬áhabis dijual dan sebagian kecil masih menempati dengan luas yang yang tidak besar, tapi masih ada yang masih bertanam padi sampai saat ini pun,” ungkapnya.

Aki Dadang (63), salah satu petani setempat, hanya memiliki sepetak tanah yang akan dia tanami padi. Sekarang dia hanya menjalani sisa hidupnya dengan beribadah dan bertani untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Kalau ada lebih, dia mengaku hasinya dijual ke tetangga.

“Yah gini-gini aja dari pada lahan ga diapa-apain, mending saya tanam biar cuma sedikit saja. Kan ada yang ditunggu,” ujarnya.

Aki Dadang memiliki empat orang anak. Dia sendiri tidak memerintahkan mereka mengikuti jejaknya dan lebih menganjurkan untuk bekerja di perusahaan sekitar desa mereka.

“Ya, kerja di PT, jadi buruh kan gajinya gede. Buat modal-modal dia usaha atau apa kan nanti. Bisa mandiri. Kalo tani udah gak ada yang bisa diharapkan ┬ádi sini,” ucapnya sambil membuang pandangan ke arah pembangunan kawasan industri.

Dalam pandangan Aki Dadang yang berkaca-kaca tersebut, tampak terlihat nostalgia akan desanya dahulu. Ketika hamparan sawah masih sangat luas, belum ada perusahaan, gembala di mana-mana dan hidup terasa lambat.

Kini, penduduk asli Cikarang Pusat hanya bisa menghirup asap dan terganggu suara alat yang bekerja siang dan malam. Sementara mereka hanya bisa berharap cuaca baik esok hari dan meminta pertolongan Tuhan agar dijauhkan dari gagal panen. [DIK]

BERIKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here