Hari Autis
PEDULI AUTIS: Rumah Autis Bekasi bersama Spire Research & Consulting gelar open house dengan tema “Autisma di Indonesia” di Rumah Autis Bekasi, Jatiasih, Kota Bekasi, Sabtu (04/4/2015). Ibu Merry (kiri) dan Nelwansyah (kanan) sedang memberikan presentasi seputar dunia autis. FOTO: INDRA GUNAWAN/SUARA BEKASI

SUARA BEKASI, Bekasi Selatan: Peringati World Autism Awareness Day 2015 (Hari Peduli Autis Dunia) yang jatuh pada 2 April 2015, Rumah Autis Bekasi bersama Spire Research & Consulting gelar open house dengan tema “Autisma di Indonesia” di Rumah Autis Bekasi, Jatiasih, Kota Bekasi, Sabtu (04/4/2015).

Open house yang berdurasi sembilan puluh menit itu dibuka dengan kata sambutan Nelwansyah sekaligus presentasi mengenai “Autis di Indonesia”.

Dalam presentasi tersebut, Nelwansyah membahas banyak hal tentang seputar dunia autisma di antaranya mengenalkan kepada banyak orang apa itu autisma, apa penyebab autisma, jumlah penyandang autisma di Indonesia, dan pendidikan bagi anak penyandang autis.

Ia menjelaskan, bahwa penanganan anak berkebutuhan bukan semata butuh peran dari orang tua. Namun, negara juga harus ikut berperan dalam menanggapi masalah ini.

“Anak berkebutuhan khusus bukan sekedar butuh peran dari orang tua, tapi perlu peran dari negara” tegas Nelwansyah dalam kesempatan tersebut.

Tujuan diadakannya open house, menurutnya adalahuntuk memberi edukasi tentang autisma serta meminta pemerintah dan masyarakat agar lebih fokus dalam berperan menangani anak berkebutuhan khusus di Indonesia.

Dalam konferensi pers Nelwansyah dan Merry (Corporate Communication Spire Research), mencatat tahun ini jumlah penyandang autisma di Indonesia berjumlah 139 ribu berusia 17 tahun ke bawah dan rata-rata penyandang autis belum mendapat perhatian khusus, memperoleh pendidikan layaknya anak normal lainnya.

Maka dari itu, Merry sangat berharap dari media massa dan pemerintah agar fokus untuk menangani dan mensosialisasikan anak berkebutuhan khusus terutama di Indonesia.

“Kami berharap semoga media massa beserta pemerintah dapat membantu mensosialisasikan anak berkebutuhan khusus, dan pemerintah bisa membuka lapangan kerja untuk mereka misalnya di bidang hospitality, perhotelan atau public service,” tutur Merry.

Di akhir acara, awak media dan seluruh tamu undangan diajak touring berkeliling ruangan sekolah Rumah Autis, kemudian melihat salah satu kegiatan ekstrakurikuler memasak siswa Rumah Autis “Cooking  Class” yang dipandu Chef Nanda Hamdalah.

Acara tersebut turut dihadiri oleh Deka Kurniawan beserta Istrinya Ulfi selaku pendiri Yayasan Cahaya Keluarga Fitrah Rumah Autis, Nelwansyah (Direktur Ekskutif Rumah Autis), Deby Haryati dan Merry dari Spire Research & Consulting. [GUN]

BERIKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here