Tips kuliah di luar negeri
Pastikan Anda memenuhi syarat pendaftaran dan menjalani semua prosedur pendaftaran kuliah di luar negeri dengan benar. (Foto: shutterstock)

SUARA BEKASI, Jakarta: Proses pendaftaran kuliah ke kampus luar negeri memiliki standarnya masing-masing. Ada banyak aturan dan detail yang harus diikuti.

Jangan sampai proses pendaftaran tersebut salah. Karena jika salah sedikit, bisa jadi berkas-berkas pendaftaran akan ditolak oleh kampus tujuan.

Menurut mahasiswa Nanchang University, China, Ahmad Syaifuddin Zuhri, yang harus dilakukan pendaftar saat menjalani proses pendaftaran kuliah di luar negeri yaitu memastikan berkas-berkas pendaftaran sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan dilegalisasi seperti ijazah dan transkrip nilai.

“Setelah semua berkas disiapkan, calon mahasiswa dapat mengunjungi situs resmi kampus yang dituju untuk mempelajari syarat umum dan khusus dari kampus tersebut, serta mengunduh berkas pendaftaran untuk diisi,” ujar Ahmad, saat dihubungi awak media, belum lama ini.

Mahasiswa master jurusan hubungan internasional itu melanjutkan, pendaftaran kuliah di China biasanya dimulai pada Maret hingga Mei setiap tahunnya. Kita juga bisa memastikan ke kampus apakah dokumen pendaftaran dikirim lewat pos atau bisa lewat email. Biasanya, kata Ahmad, jika diterima di kampus tujuan, calon mahasiswa akan mendapatkan letter of acceptance (LoA) dan berkas aplikasi visa pelajar.

“Setelah urusan visa selesai, cari sebanyak mungkin informasi tentang kampus dan negara tujuan, serta apakah ada mahasiswa Indonesia yang terdapat di kampus tersebut sebelum berangkat,” tuturnya.

Dewan Pembina Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tiongkok 2014-2015 itu menambahkan, perkuliahan secara regular akan dimulai pada awal September. Usahakan minimal seminggu sebelum kuliah dimulai sudah sampai di kampus tujuan.

“Jadi ada waktu untuk beradaptasi dan mengurus segala macam sebelum kuliah,” pesannya.

Ryvo Octaviano, mahasiswa Indonesia yang kuliah di Technological University (TU) Eindhoven, Belanda punya tips khusus ketika mendaftar kuliah di luar negeri yaitu jangan menunda pendaftaran.

“Saya tekankan, jangan pernah menunda mengirimkan aplikasi. Cek semua tanggal penting terutama deadline aplikasi. Saya memiliki pengalaman kurang baik saat mendaftarkan kuliah di TU/e,” tegas Ryvo.

Mahasiswa jurusan Master Systems and Control (Mechanical Engineering) itu bercerita, pada April 2010, dia mendaftar kuliah dan diterima. Namun, Ryvo tidak bisa mengikuti seleksi beasiswa karena deadline pengiriman pendaftaran program beasiswa ALSP sebelum 1 Febuari.

“Jadi, saya terpaksa menunda mimpi saya selama satu tahun,” katanya.

Selain itu, Ryvo juga menekankan pentingnya mempersiapkan sertifikat TOEFL iBT atau IELTS sebelum masa pendaftaran tutup. Perlu diketahui, TOEFL iBT memiliki skala 120, berbeda dengan TOEFL paper based berskala 677.

“Jangan sampai keliru mempersiapkan dokumen,” imbuhnya.

Untuk urusan surat rekomendasi, kara Ryvo, biasanya kampus meminta calon mahasiswa mengirimkan dua surat. Ketika melamar untuk beasiswa, Ryvo meminta rekomendasi seorang dosen yang telah bergelar profesor dan ketua program studi (prodi) di jurusannya.

“Pilihlah orang yang dapat memberikan penjelasan detail tentang diri Anda seperti indeks prestasi kumulatif (IPK), pengalaman riset, pengalaman organisasi, dan lain sebagainya. Tentunya, orang tersebut dikenal reputasinya di bidang akademik. Hal ini dapat membantu dalam proses seleksi beasiswa,” jelasnya.

Sementara itu, menurut mahasiswa National University of Singapore (NUS), Achmad Firdaus, kunci dari proses pendaftaran kuliah di luar negeri adalah mempersiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan dengan baik. Pendaftar, kata Achmad, harus menyiapkan berkas sesuai standar yang ditetapkan oleh setiap universitas

“Kemudian fokuskan arah kajian yang ingin dikaji supaya lebih mudah dapat supervisor riset,” kata mahasiswa jurusan remote sensing itu. [MAN/OKE]

BERIKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here