Ali Anwar
Sejarawan Bekasi, Ali Anwar, menilai pembangunan Bekasi bagian utara jauh tertinggal dengan selatan. FOTO: INDRA GUNAWAN/SUARA BEKASI

SUARA BEKASI, Babelan: Sejarawan Bekasi menilai, sebelum tahun 1970-an sebelum adanya kawasan industri, bahwa sesungguhnya peradaban Bekasi ada di utara.

“Peradaban Bekasi itu adanya di utara, lembaga-lembaga pendidikan itu ada di utara, orang mencari kerja itu di utara sebagai petani,” kata Sejarawan Bekasi, Ali Anwar, saat berbincang dengan Suara Bekasi, di Babelan, Rabu (1/4/2015).

Ia mengatakan, di Bekasi bagian selatan itu cenderung untuk perkebunan, karena di selatan kehidupan sedikit. Lahannya luas, tapi pekerjanya sedikit.

Sedangkan di utara itu banyak penduduk, dan kalau kita mengacu kepada peta dari tahun 70-an sampai awal abad ke-19, kata dia, kelihatan betul perkampungan itu adanya di Utara.

“Pada tahun 70-an sampai awal abad ke-19, kelihatan betul perkampungan itu adanya di utara dibanding di selatan,” jelasnya.

Menurutnya, saat itu tiba-tiba ada industri yang justru memberikan limbah ke utara, dampaknya membuat mereka tidak dapat mencari mata pencaharian di situ.

Selain itu, lanjut dia, untuk mencuci pun mereka sudah tidak bisa lagi, karena sungai sudah tercemar.

Seiring perkembangan zaman, perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi juga beralih ke pusat kota.

“Perhatian Pemkab hanya ke pusat kota, yakni di Cikarang, Tambun, dan Lemah Abang, dan akhirnya wilayah utara pun tertinggal,” bebernya.

Lebih jauh Ali Anwar mengatakan, dalam kondisi ketertinggalan ini ditambah perhatian yang lemah, infrastruktur yang sedikit, SDM yang rendah, akhirnya terjadilah kecemburuan sosial.

“Jadi sangat wajar jika ada kecemburuan sosial, karena peradaban itu ada di utara kemudian beralih ke selatan, itu wajar jika mereka cemburu. Kalau Pemkab Bekasi mau mensejahterakan masyarakat, sejahterakan dulu yang paling bawah,” ujarnya.

Sebelum kita merdeka, sambung dia, kita masih dijajah, yang disejahterakan itu level atas atau selatan. Sementara yang mayoritasnya justru diabaikan bahkan dieksploitasi.

Begitu kita merdeka, sudah jelas-jelas dalam Pacasila dan UUD 1945 semua itu rakyat. Jadi seharusnya pola pikirnya yang paling pertama yang diutamakan itu lapisan paling bawah.

“Orang miskin masuk rumah sakit, gak punya duit itu yang diutamakan, orang yang sudah kaya gak perlu lah, mereka sudah bisa mandiri. Nah, orang miskin naek ojek saja susah,” tegasnya.

Ali Anwar menambahkan, termasuk infrastruktur seharusnya dibangun daerah yang terjauh terlebih dahulu. Ketika mereka mengirimkan hasil pertaniannya, mereka tidak sulit mengirimnya karena akses infrastruktur yang hancur. Sementara, yang di pelosok ini mungkin sudah tujuh turunan di situ.

“Dahulukan yang di pelosok yang mayoritas orang pribumi asli, jangan yang di kota yang notabanenya mereka pendatang,” pungkasnya. [GUN]

BERIKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here