Relawan Sosial Kemanusiaan (RSK) mendatangi kediaman Bintang anak dari Salam (53) di Kampung Serengseng Desa Sukamulya Kecamatan Sukatani Kabupaten Bekasi. Bintang merasa senang mendapatkan bingkisan dari rekan-rekan RSK yang menyambangi rumah orangtuanya pada Minggu (5/1/2020). Foto: Rio Febriana/suarabekasi.id.

SUARA BEKASI ONLINE, Sukatani: Miris, satu tahun lebih bantuan untuk penyandang disabilitas di Desa Sukamulya Kecamatan Sukatani Kabupaten Bekasi tidak turun. Besaran yang turun sebesar Rp300 ribu perbulan tersebut saat ini hilang.

Minggu (5/1/2020), Pegiat Difabel yang mengatasnamakan Relawan Sosial Kemanusiaan (RSK), Mahmud MZ mengatakan tahun 2018 hingga akhir di 2019 adalah waktu terakhir bantuan disabilitas turun.

Sebelumnya, dirinya mengapresiasi tindakan pemerintah. Karena dalam konteks kebijakan itu dirinya menganggap kebijakan pemerintah sebagai langkah afirmasi terhadap penyandang disabilitas.

“Awal tahun 2020 ini Kami (RSK) belum melihat dan mendengar penyandang disabilitas mendapat perhatian dari anggaran yang sebelumnya turun sebesar Rp300 ribu,” kata Mahmud saat berkunjung di Kediaman Difabel di Kampung Serengseng, Desa Sukamulya Kecamatan Sukatani Kabupaten Bekasi.

Kata Mahmud, dalam konteks bantuan yang sempat ada tahun lalu pun tidak menutup kebutuhan-kebutuhan khusus penyandang disabilitas. Apalagi jika sudah ditiadakan.

Pasalnya, lanjut Mahmud, berbicara disabilitas pemerintah belum mampu menutup semua sektor kebutuhan difabel apalagi konteks human rights-nya masih jauh dari kata terpenuhi.

“Dibantu dengan angka Rp300 ribu saja penyandang disabilitas belum terpenuhi. Karena, disabilitas itu harus ditopang dengan bantuan alat khusus. Apalagi jika bantuan itu dihilangkan, sudah satu tahun menurut penuturan orang tua puluhan penyandang disabilitas di Desa Sukamulya Kecamatan Sukatani Kabupaten Bekasi tidak mendapatkan perhatian, Kartu ATM-nya pun ditarik,” kata Mahmud juga.

Sementara itu, salah satu orang tua Penyandang Disabilitas di Desa Sukamulya Kecamatan Sukatani Kabupaten Bekasi, Salam (53) membenarkan bantuan yang sebelumnya digelontorkan Rp300 ribu tersebut sudah tidak diterimanya selama satu tahun belakangan ini.

Selain sudah tidak turun, pihaknya juga menyayangkan kartu ATM peranti dirinya menerima bantuan tersebut ditarik oleh salah satu orang yang katanya selalu memberi informasi bantuan itu turun.

“Nama orang itu Didi, dia orang Jagoana Sukamantri. Sudah satu tahun ATM itu gak pulang. Sebelumnya anggaran itu saya terima besaran Rp300 ribu. Kalau seumpama lebih dari itu, kasihan sebetulnya. Jangan lihat anak saya, tapi lihat anak-anak disabilitas yang lain yang lebih parah dari anak saya,” tutur Salam tersedu.

Dilanjutkannya, meski terbilang kecil, namun kata Salam bantuan dari pemerintah tersebut sangat membantu.

“Bantuan Rp300 itu sangat berarti bagi masyarakat. Sampai ada yang begini lho. Ada orang tua meminjam uang kepada tetangganya, dengan dalih nanti di bayar setelah anggaran itu turun,” pungkas Salam.

Diketahui, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Bekasi Abdillah Majid pernah mengatakan jumlah penyandang disabilitas di Kabupaten Bekasi diperkirakannya lebih dari seribu orang. [RIO]

Tinggalkan Balasan