Mahfud Abdurrahman
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mahfud Abdul Rahman (kiri) bersama Wakil Walikota Bekasi, Ahmad Syaikhu. FOTO: HERRY ZAINAL KHUSNI/SUARA BEKASI.

SUARA BEKASI, Ciketing: Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mahfud Abdul Rahman, melakukan reses di wilayah Ciketing Kelurahan Mustika Jaya, Kota Bekasi, Ahad (11/01/2015). Dalam resesnya kali ini, dirinya terpanggil untuk membenahi dan melestarikan budaya Bekasi.

Mahfud menilai, reses adalah sarana untuk berkomunikasi. Dirinya merasa berkepentingan untuk melestarikan budaya Bekasi, yang lama-kelamaan kalau tidak dipertahankan akan termarjinalisasi (terbuang, red).

Dirinya juga mengajak dan menekankan kepada anggota DPRD setempat untuk turut serta dalam melestarikan budaya Bekasi.

β€œHal ini adalah kegiatan yang sangat positif, dan saya sudah memberikan himbauan kepada Walikota Bekasi agar memberi semangat kepada seluruh pelestari budaya. Mereka agar diberikan tempat atau pun anggaran dari APBD serta tempat yang layak seperti gedung kesenian,” ujar politisi PKS ini kepada Suara Bekasi.

Menurutnya, dirinya ingin kebudayaan Bekasi dikelola dengan serius agar kesenian dan budaya Bekasi menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri.

“Saya berharap ketika ada kegiatan kunjungan seremonial baik dewan atau siapa pun disambut dengan kesenian Bekasi. Saya juga menekankan agar Bekasi mempunyai kampung-kampung wisata dan seni agar kesenian budaya Bekasi terlihat, baik dalam berpakaian ataupun kesenian,” tuturnya.

Masih menurutnya, dirinya siap mengusahakan pakaian pangsi menjadi pakaian resmi yang dikenakan oleh pegawai pemerintahan.

“Seperti Rebo Sundaan yang sudah diterapkan di daerah Bandung, dan Bekasi khususnya Kota Bekasi bisa mengikuti jejak dari Pemerintahan Kota Bandung,” terangnya.

Ketika ditanya kenapa harus pangsi, pria penggemar silat dan futsal ini kepada Suara Bekasi mengatakan, bahwa pangsi adalah pakaian adat khas Bekasi yang memang sudah dipakai oleh masyarakat terdahulu.

“Baju pangsi identik dengan agama. Semisal celana yang menggantung sampai atas mata kaki menggambarkan tidak sombong dan mampu bekerja. Saya berharap di 2016 nanti semua yang berbau seni dan budaya kearifan lokal Bekasi bisa terealisasi dan diterapkan,” ungkapnya.

Terpisah, anggota DPRD Kota Bekasi dari Fraksi PKS, Heri Koswara, megamini program yang dicetuskan oleh masyarakat dan diterima oleh DPR-RI, Mahfud Abdul Rahman . Bahkan, katanya, Walikota Bekasi pun merespon program tersebut dan akan membawa program ini ke tingkat Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida).

“Sangat setuju dengan program yang dibuat, dan program ini akan segera dibawa ke tingkat Muspida Kota Bekasi,” pungkasnya. [HER]

BERIKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here