lustrasi: Reuters
lustrasi: Reuters

JAKARTA – Mantan Gubernur OPEC untuk Indonesia Meizar Rahman secara terang-terangan mengisahkan peristiwa mundurnya Indonesia dari keanggotaan negara pengekspor minyak.

Indonesia keluar dari OPEC lantaran posisinya bukan lagi sebagai negara pengekspor minyak tetapi negara pengimpor minyak. Sewaktu Indonesia masih berstatuskan sebagai anggota OPEC, Indonesia berkewajiban membayar iuran sebesar USD2 juta per tahun. Angka itu cukup besar, sebab pada 2008 tengah terjadi ancaman krisis ekonomi, yang bermuara di Amerika Serikat.

Meizar menegaskan, Indonesia membekukan status keanggotaannya pada tahun 2008 bukan karena iuran tersebut, namun karena ketidakcocokan Indonesia sebagai negara importir minyak dengan apa yang diharapkan negara eksportir minyak.

Sementara status Indonesia pada 2008, menurut Meizar bukan keluar dari OPEC, melainkan berstatus disuspensi.

“Sebagai negara importir, kita tidak bisa duduk satu meja dengan negara eksportir ketika membahas penurunan ataupun kenaikan harga minyak. Kita sebagai importir tentu ingin harga tetap rendah, kalau mereka kan inginnya tetap tinggi. Jadi tidak akan cocok,” pungkasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Indonesia mengajukan untuk keluar dari OPEC pada 2008. Karena produksi minyak Indonesia kian hari kian surut. Bahkan jatuh di bawah 1 juta barrel per hari dari tahun-tahun sebelumnya yang mencapai 1,6 juta barrel per hari.

Lalu Presiden OPEC Sheikh Ahmad Fahad Al-Ahmad mengirimkan sepucuk surat tertanggal 17 Juni 2005, kepada Menteri ESDM yang kala itu dijabat oleh Purnomo Yusgiantoro. Dalam surat tersebut, Presiden OPEC berharap agar negara-negara produsen minyak lainnya mendukung agar Indonesia tidak keluar dari OPEC.

“Saya pikir, semua anggota mendukung Indonesia melanjutkan keanggotaannya,” demikian tulis Presiden OPEC.

Kendati demikian, Indonesia secara resmi tetap mengumumkan keluar dari keanggotaan penuh organisasi tersebut dalam sidang OPEC di Wina, Austria, Selasa 9 September 2008. Namun, hasil Konferensi OPEC ke-149 itu menyepakati diberlakukannya status suspensi keanggotaan kepada Indonesia. OPEC mengharapkan agar Indonesia dapat menjadi anggota penuh OPEC kembali bila situasi memungkinkan.

Alasannya, OPEC memahami status Indonesia bukan lagi sebagai ekspotir, melainkan sebagai net oil importer. Demikian seperti dikutip dari data Kementerian ESDM.

Kendati disuspensi, namun Indonesia tetap menjalin hubungan baik dengan OPEC, maupun menjalin hubungan bilateral dengan sejumlah negara OPEC. Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro tetap melakukan pembicaraan kerjasama dengan sejumlah menteri bidang energi pascastatus suspensi. (oke/rzk)

BERIKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here