Lokasi tanah Rawa yang sudah beralih fungsi menjadi lahan pertanian, di Kp. Rawa Keladi, Desa Sukaindah, Kecamatan Sukakarya. Foto: K. Supardi/suarabekasi.id.

SUARA BEKASI ONLINE, Sukakarya: Seluas lima hektar tanah berstatus Rawa yang terletak di Desa Sukaindah Kecamatan Sukakarya Kabupaten Bekasi Jawa Barat, raib alias beralih fungsi lahan.

Diduga kuat, raibnya tanah Rawa tersebut lantaran telah diperjualbelikan oleh warga yang bekerjasama dengan oknum pegawai pada pemerintahan setempat, yang kini status tanahnya sudah beralih menjadi hak milik berupa Akta Jual Beli (AJB).

Pantauan suarabekasi.id di lapangan, tanah Rawa yang dikenal dengan sebutan ‘Rawa Teleng’, yang berada di Dusun I Kampung Rawa Keladi RT. 002/02, kini berubah menjadi hamparan persawahan produktif yang dapat digarap dan dipanen dua kali dalam setahun.

Warga setempat, Abu Yahya (45) sangat menyesalkan alih fungsi lahan tersebut yang menyebabkan Rawa di daerahnya kini raib.

Pasalnya, keberadaan Rawa tersebut yang sudah ada sejak dirinya lahir, sangat membantu para petani dan juga warga setempat.

Menurut dia, Rawa tersebut memiliki fungsi serbaguna. Di antaranya sebagai tempat penampungan air untuk pengairan pertanian saat musim kemarau tiba.

Tak hanya itu, keberadaan Rawa pun diakuinya sebagai salah satu sumber mata pencaharian warga sekitar.

“Iya di Rawa juga kita bisa nyari ikan buat mata pencaharian warga. Lumayan lah buat nyambung hidup,” tutur Abu Yahya kepada redaksi suarabekasi.id, Senin (2/12/2019).

Dia memperkirakan raibnya tanah Rawa tersebut sudah terjadi belasan tahun yang lalu ketika dirinya masih remaja.

Seinget saya waktu remaja dulu, kalo pengin makan ikan cukup pegi ke Rawa itu. Cukup bawa kail kalo musim banjir. Kalo musim kemarau malah kita bisa nimba (mengeringkan sebagian, red) Rawa itu biar dapet ikan banyak,” kenang Abu Yahya yang rumahnya tak jauh dari Rawa tersebut.

Hal senada dituturkan Kartono (46), warga setempat yang ikut menjaga Rawa tersebut sejak kecil bersama orangtuanya.

Ia menceritakan, jika luas Rawa tersebut diperkirakan 5 (lima) hektar yang posisi tanahnya lebih rendah seperti cekungan, dan dulunya ditumbuhi lingi, kembang biru, eceng gondok, dan berbagai jenis tanaman yang hidup di air.

“Saya inget betul Rawa itu dulunya seperti apa, karena saya sejak kecil ikut kedua orangtua saya yang merawat dan menjaga Rawa itu agar tetap menjadi tempat penampungan air dan sumber mata pencaharian warga,” ungkap Kartono, Senin (2/12/2019).

Ia mengatakan, pada 1980-an saat dirinya masih duduk di bangku sekolah dasar (SD), kerap membantu ayahnya menjaga Rawa tersebut yang masih seperti hutan belantara.

Saat itu, kata dia, tak banyak orang yang peduli dengan keberadaan Rawa tersebut lantaran kondisinya masih rawan karena jarang terjamah tangan manusia.

Masih menurut Kartono, seiring berjalannya waktu, dan tanpa sepengetahuan keluarganya, Rawa tersebut tiba-tiba berubah menjadi lahan pertanian.

“Saya dan keluarga juga engga tau itu siapa yang mula-mulain ngubah Rawa itu jadi lahan pertanian. Saya dan keluarga sangat kecewa,” ungkapnya.

Warga berharap kepada Pemerintah agar segera mengembalikan status tanah Rawa tersebut seperti dahulu yang dapat dimanfaatkan oleh siapa saja, khususnya warga sekitar.

Terpisah, Kepala Desa Sukaindah Kecamatan Sukakarya, Endang Syuhada, belum dapat dimintai penjelasan terkait hal tersebut.

Kepala Desa yang baru menjabat sekira 1 tahun itu dihubungi via telepon genggamnya dalam kondisi offline.

Diketahui, berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan, dinyatakan bahwa Rawa merupakan salah satu sumber air yang perlu dilindungi dan dimanfaatkan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat dan perlu dijaga kelestariannya.

Sedangkan, dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 27 Tahun 1991 tentang Rawa, dinyatakan bahwa Rawa dikuasai oleh Negara yang pelaksanaannya dilakukan oleh Pemerintah.

Dalam PP tersebut pun, dinyatakan dengan tegas sanksi pidana bagi siapa saja yang melakukan pengambilan di wilayah konservasi Rawa tanpa seizin Kementerian terkait. [BAR/MAN]

Tinggalkan Balasan