insomnia, darah tinggi
Insomnia picu darah tinggi (Foto:Standart)

SUARA BEKASI. Apakah Anda sering  mengalami gangguan tidur belakangan ini? Bisa jadi Anda mengalami tekanan darah tinggi. Hubungan ini dijelaskan oleh penelitian baru di Tiongkok.

Studi ini menunjukkan bahwa mereka yang mengalami insomnia berada pada risiko tinggi tekanan darah tinggi. Insomnia yang memiliki gejala hyperarousal berhubungan dengan peningkatan sekresi hormon stres kronik, seperti kortisol, yang dapat berujung pada hipertensi.

Hal demikian dinyatakan oleh penulis studi Dr Xiangdong Tang dari Sinchuan University dan Dr Alexandros N. Vgontzas dari Penn State University College of Medicine, dalam pernyataan kepada Reuters, seperti dikutip Healthcareasia, Senin (2/2/2015).

Peneliti mempelajari sekira 300 peserta dewasa, termasuk lebih dari 200 pengidap insomnia kronis, setidaknya enam bulan terakhir. Setiap malam mereka dibolehkan tidur sebagaimana biasanya di ruang yang dikontrol suhu, cahaya, dan suaranya.

Keesokan harinya mereka diberikan kesempatan tidur siang selama 20 menit. Peneliti kemudian mengukur waktu yang mereka pakai untuk benar-benar tidur, bila mereka bisa. Peneliti juga mengecek tes tekanan darah pada sore dan pagi hari.

Orang yang tidur dengan normal tidak memiliki tekanan darah tinggi, bahkan setelah tidur siang lebih lama. Untuk para pengidap insomnia kronis, semakin lama mereka tidur, semakin mungkin mereka mendapat tekanan darah tinggi. Hal ini tidak terpengaruh dengan perbedaan usia, jenis kelamin, berat dan tinggi badan, diabetes, konsumsi alkohol, rokok, dan kafein.

Dibandingkan dengan mereka yang dapat tidur normal, pengidap insomnia yang membutuhkan 14 menit untuk tidur dalam sehari, tiga kali mendapat pembacaan tekanan darah tinggi atau diagnosis hipertensi dari dokter. Laporan ini dipublikasikan dalam jurnal Hypertension.

“Insomnia yang memiliki tidur malam yang pendek atau menunjukkan tanda-tanda hyperalertness selama siang hari berada pada risiko hipertensi. Ini sama dengan orang yang memiliki risiko lain seperti obesitas, lipid tinggi, merokok, dan lain sebagainya,” tulis peneliti. [ADE/OKE]

BERIKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here