SBY
Empat “Serangan” SBY ke Jokowi

JAKARTA – Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) beberapa kali menyindir dan mengkritisi kebijakan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Tercatat empat kali SBY mengkritik pemerintahan saat ini melalui akun Twitter-nya, @SBYudhoyono. Berikut ini empat “serangan” SBY tersebut, sebagaimana dirangkum pada┬áSelasa (28/4/2015).

SBY Kritik Revolusi Mental Jokowi

Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudoyono (SBY) mengatakan Jokowi harus mengutamakan keseimbangan di segala hal saat menerapkan revolusi mental tersebut. SBY menuturkan, kehidupan bangsa yang harmonis merupakan cerminan revolusi mental untuk kemajuan suatu bangsa.

“Masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk, itu harus disikapi dengan bijak, benih konflik di dalamnya pasti ada, maka perlu konsiliasi dan keseimbangan dalam bingkai kemajemukan bangsa,” terangnya saat menjadi keynote speaker diskusi publik di Universitas Nasional, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat 24 April 2015.

Stabilitas dan kebebasan bangsa dan negara, menurut SBY, mutlak dibutuhkan, di samping juga konflik yang terjadi harus segera dicegah dan diselesaikan. “Kebebasan boleh, tapi hormati aturan dan ketentuan hukum. Harus ada keseimbangan yang absolut, demokrasi yang seimbang,” imbuhnya.

Soal Utang IMF, SBY: Pernyataan Jokowi Salah!

Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kembali mengeluarkan “amunisi” untuk mengkritik Presiden Joko Widodo (Jokowi). Kritik itu terkait pernyataan mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut tentang utang Indonesia ke International Money Fund (IMF).

“Maaf, saya terpaksa mengoreksi pernyataan Presiden Jokowi tentang utang IMF,” jelas SBY mengawali kicauan bersambungnya, Senin 27 April 2015.

Presiden RI dua periode itu berujar bahwa pernyataan yang dikeluarkan Jokowi salah. Sebab, Indonesia sudah melunasi semua utang dari lembaga dunia tersebut.

“Saya harus mengatakan bahwa pernyataan Pak Jokowi tersebut salah. Indonesia sudah melunasi semua utang kepada IMF pada 2006,” lanjut SBY.

SBY Sindir Jokowi untuk Hormati Partai Politik

Ketua Umum Partai Demokrat Susio Bambang Yudhoyono (SBY), menyinggung konflik yang terjadi di Golkar dan PPP. Dia pun menyindir Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk tidak mengganggu partai politik saat berkuasa.

“Waktu saya jadi presiden, tidak pernah mengganggu partai politik lain meskipun ada yang menetang saya. Hormatilah mereka (partai politik), tidak ada niat apalagi tindakan untuk intervensi,” ungkap SBY usai menghadiri acara Silaturahim Nasional II Forum Komunikasi dan Deklarator Partai Demokrat (FKPD-PD), di Hotel Sahid, Sudirman, Jakarta, Kamis 16 April 2015.

Dia pun sempat mengomentari pernyataan sang anak Edhie Baskoro (Ibas) yang meminta kepada Presiden Jokowi agar Partai Demokrat yang akan melangsungkan kongres pada Mei 2015 tidak “digolkarkan”.

Penyataan SBY soal Jokowi Naikkan Harga BBM

Sebelum menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) terlebih dulu menelefon mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Kejadian itu terungkap setelah SBY berkicau di akun Twitter miliknya, @SBYudhoyono.

“Saya terima banyak pertanyaan/mentions dari publik soal kenaikan BBM. Kebetulan pukul 08.10 malam ini saya terima telefon dari Wapres @Pak_JK . *SBY*,” tulisnya, Senin 17 November 2014 malam.

Dalam pembicaraan itu, JK melaporkan secara langsung kepada SBY perihal niat pemerintah menaikkan harga BBM. Mendengar hal itu, presiden keenam Indonesia itu langsung memberikan wejangannya kepada JK.

“Wapres beri tahu bahwa pemerintah akan naikkan harga BBM. Saya katakan, menaikkan harga BBM adalah wewenang pemerintah. *SBY*. Tapi pemerintah wajib jelaskan kepada rakyat mengapa harga BBM dinaikkan. Itu jawaban saya sbg respons atas telepon @Pak_JK . *SBY*,” tulis SBY. (oke/fmi)

BERIKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here