PPNSI
Eni (41), janda sebatang kara yang tinggal di pinggiran Kali Bekasi. FOTO: INDRA GUNAWAN/SUARA BEKASI

SUARA BEKASI, Tambun Utara: Eni (41), janda sebatang kara ini tinggal di pinggir Kali Bekasi, yang rumahnya rusak diterpa angin puting beliung Februari lalu.

Eni menuturkan, dua tahun lalu dia bersama ibunya pindah dari Babelan ke rumahnya sekarang yang berlokasi di Desa Sriamur RT. 01 RW 05 nomor 58, Tambun Utara, Kabupaten Bekasi.

Awalnya rumahnya tidak sekecil saat ini. Namun, saat musim hujan menyebabkan kali meluap dan tanah di pinggir rumahnya longsor hingga membuat sebagian rumah ambruk.

Rumah berukuran 3×5 meter itu sangat berantakan. Pintu kayu yang sudah reot mengeluarkan bunyi decit saat dibuka. Aroma tak sedap pun langsung menusuk hidung saat kaki melangkah ke dalam rumah.

Namun malang nasib Eni, setahun lalu ibunya meninggal karena sakit. Sejak saat itu dia tinggal sebatang kara di rumahnya yang reot.

“Pas pindah ke sini, suami saya sudah meninggal. Jadi cuma berdua sama mama. Baru setahun menikah sudah ditinggal suami, terus mama, anak juga nggak punya,” ucap Eni sedih.

Eni merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Namun, kedua adiknya sudah meninggal saat masih kecil karena demam berdarah. Menurutnya, ada saudara dari ibunya namun tempat tinggal mereka berjauhan.

“Mereka tinggalnya di Cibitung, Cikarang dan Tangerang,” kata perempuan lulusan SD ini.

Eni kemudian menunjukkan kamar tempat tidurnya yang ternyata lebih berantakan, baju kotor, tikar, kardus, kayu dan genteng sisa-sisa reruntuhan tak beraturan. Atap di atas juga bolong bekas terpaan puting beliung lalu.

“Jadi kalu hujan saya tidur kedingan dan baju pun basah. Terus gelap karena gak ada listrik, nyamuknya juga banyak,” rintih Eni

Jika ingin mandi atau buang hajat, Eni biasa menumpang pada tetangga atau di kali.

“Mandinya jarang soalnya gak ada air,” terang dia. [GUN]

BERIKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here