Kesehatan, Nur’aidi dan ibundanya Sari, Pemerintah Kabupaten Bekasi, Suara Bekasi
TERBARING PASRAH: Nur’aidi dan ibundanya Sari, hanya bisa pasrah merasakan nyeri penyakit yang dideritanya bertahun-tahun yang tak kunjung sembuh. Mereka berharap ada kepedulian dari Pemerintah Kabupaten Bekasi. FOTO: HERRY ZAINAL KHUSNI/SUARA BEKASI

SUARA BEKASI, Babelan: Janji manis Bupati Bekasi, Neneng Hasanah Yasin, saat kampanye lalu yang akan menggratiskan kesehatan bagi masyarakat Kabupaten Bekasi dipertanyakan warga. Pasalnya, hingga kini banyak warga yang menderita sakit bahkan sudah bertahun-tahun, namun belum ada sentuhan sama sekali dari Pemerintah Daerah.

Seperti yang terjadi di RT. 15/03 Desa Babelan Kota Kecamatan Babelan. Nur’aidi (28), sudah 7 tahun menderita sakit yang tak kunjung sembuh. Kedua kakinya mengalami pergeseran tulang dan pembengkakan. Nyaris, anak muda itu tidak dapat berjalan normal layaknya orang sehat.

Tidak hanya itu, ibunda Nur’aidi, Sari (55) yang berstatus janda pun mengalami penyakit struk ringan yang dideritanya sejak tiga tahun lalu.

Tak ayal, anak dan ibu itu pun tidak dapat menjalankan aktifitas sebagaimana biasanya. Mereka hanya bisa pasrah dengan nasib yang telah menimpa keluarganya bertahun-tahun.

Nur’aidi saat ini hanya bisa duduk dan terbaring di dalam kamar sambil merintih kesakitan, lantaran penyakit yang dideritanya.

“Penyakit yang saya derita sudah tujuh tahun. Sebelumnya saya sudah periksa terus ke Puskesmas. Tapi tetap saja engga ada perubahan,” tutur Nur’aidi, saat berbincang dengan Suara Bekasi di rumahnya, Ahad (21/12) malam.

Bahkan, Nur’aidi menuturkan, dirinya sudah berusaha berobat ke beberapa tempat Pengobatan Alternatif yang cukup terkenal, namun tetap saja belum bisa disembuhkan.

“Kadang kalo lagi mendingan bisa untuk berjalan, itu juga harus merambat dulu ke tembok,” katanya.

Menurutnya, dirinya semakin tidak tahu apa yang harus dilakukan. Keluarganya berharap ada uluran tangan dari Pemerintah Kabupaten Bekasi untuk membantu biaya pengobatan penyakit yang mereka derita.

“Kalau dibawa ke rumah sakit, jujur aja kami tidak ada biayanya Mas, karena kami ini orang miskin,” tutur Nur’aidi yang terlihat meneteskan air mata.

Untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari, keluarga itu pun hanya mengandalkan bantuan Maysaroh (35), kakak Nur’aidi, yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga dengan upah Rp 25.000,- perhari.

Maysaroh sendiri yang berstatus janda, sudah menanggung beban berat menyekolahkan tiga orang anaknya di SMP dan SMK. [HER]

BERIKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here